Connect with us

Bengkulu

Praktisi Hukum Bengkulu Sampaikan Keluhan Masyarakat, Akan Pendzoliman Oknum Jaksa Nakal

Published

on

 2,655 X dibaca

BENGKULU, Netralitasnews.com –Praktisi Hukum Provinsi Bengkulu Bayu Purnomo Saputra, SH (Advokat / Praktisi Hukum) medukung penuh program kejaksaan agung Republik Indonesia untuk memberantas oknum jaksa yang nakal.

Sebelumnya, Kepala Kejaksaan Agung Sanitiar Burhanuddin memberikan peringatan keras kepada jajaran kejaksaan di seluruh penjuru tanah air dalam penanganan kasus tindak pidana korupsi (TIPIKOR).

Orang nomor satu di Korps Adhyaksa itu mengingatkan, bahwa dirinya akan menindak tegas oknum jaksa yang kecolongan dalam penanganan kasus rasuah di wilayah kerjanya masing-masing.

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo meminta pengawasan dan penegakkan disiplin internal di lingkungan Kejaksaan terus diperkuat.

Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap aparat penuntut hukum. “Kejaksaan harus bersih. Kejaksaan harus dapat menjadi role model penegak hukum yang profesional serta berintegritas,” kata Jokowi pada peresmian pembukaan rapat kerja Kejaksaan RI yang ditayangkan Sekretariat Presiden, Pada Senin (14/12/2020).

Dalam hal ini, Kejaksaan agung mengubah paradigma dalam memberikan hukuman kepada jaksa nakal. Ia mengakui, pada masa sebelumnya, pimpinan kejaksaan cenderung hanya memberikan sanksi administratif kepada jaksa yang melanggar aturan, bahkan pidana sekalipun. Ini karena ada rasa malu jika jaksa sebagai penuntut hukum, diadili di pengadilan.

Namun ternyata pendekatan ini malah memperparah mental jaksa. karena merasa tak mungkin dipidanakan, jaksa tidak pernah jera disuap, memeras, menghilangkan barang bukti, atau memalsukan dokumen. terbukti kenakalan jaksa justru kian meningkat dari tahun ke tahun.

Penulis memberikan gambaran contoh konkrit yang terjadi disalah satu daerah yang diambil dari curhatan salah satu keluarga di wilayah daerah Kabupaten Bengkulu, yang merasa didzolimi oleh oknum jaksa, dengan memberikan iming- iming terhadap keluarga korban

Berikut curhatan salah satu keluarga korban yang mengalami peristiwa konkrit tersebut. “Tidak semua keadilan melindungi yang lemah, jaksa yang dianggap mampu memberikan perlindungan bagi yang tak bersalah pun rasanya tidak pas dalam kasus keluarga.

Kenakalan jaksa berawal dari penawarannya melindungi keluarga dari jerat hukum berat Karena kasus yang menimpanya.

Alih-alih masih ada hubungan keluarga jaksa ini memberikan tekanan terhadap keluarga tersangka, dia menawarkan untuk mengembalikan kerugian Negara, awalnya jaksa menanyakan berapa sanggup untuk mengembalikan kerugian Negara, keluarga tersangka tidak memberikan kesanggupan untuk mengembalikan kerugian Negara hanya karena ditekan, secara fsikologis akan tuntutan yang berat akhirnya pihak Keluarga tersangka memberikan uang sebesar 50. Juta, sisa dari kerugian Negara tersebut masih 60 juta. nah jaksa menawarkan kepada pihak Keluarga untuk dia memfasilitasi untuk bertemu dengan pihak-pihak yang terkait dengan kasus ini dan jaksa menyebutkan 9 orang yang terlibat, akan tetapi sampai saat ini 9 orang tersebut tidak terjerat, Jaksa menawarkan agar dia memfasilitasi untuk bertemu dan meminta uang kekurangan kerugian Negara kepada 9 orang tersebut dan apabila uang tersebut sudah terkumpul maka akan diserahkan kepihak Keluarga tersangka. terkesan seolah-olah uang tersebut dari pihak keluarga tersangka.

Dan pihak Keluarga tersangka disini merasa dirugikan oleh sikap oknum jaksa nakal ini, Karena secara jelas nyata dia mengakui kalau ada 9 orang yang terlibat dan bersalah, dan penawaran ini diiringi dengan intimidasi kalau pihak keluarga berkoar-koar ke pihak media, maka dia akan menuntut dengan kacamata kuda.”

Dari ungkapan curhatan tersebut penulis berpendapat sudah jelas melanggar peraturan, karena dengan mudahnya oknum jaksa tersebut memberikan tuntutan dengan kacamata kuda yang disampaikan oleh keluarga korban tersebut, sehingga tidak menjadi contoh yang baik terhadap penegakan hukum itu sendiri.

Penulis berharap Kejaksaan Agung memberikan fasilitas pengaduan terhadap masyarakat dari daerah khusus nya untuk memberikan layanan konkrit dan efektif terhadap masyarakat didaerah. tentunya mudah dipahami dalam hal proses tata cara pengaduan tersebut, sehingga masyarakat tidak kesulitan dalam melakukan pengaduan terhadap oknum jaksa yang nakal ini.

Adapun tugas pokok dan fungsi dari Komisi Kejaksaan adalah melakukan pengawasan dan penilaian terhadap kinerja dan perilaku jaksa. selain itu, Komisi Kejaksaan juga bertugas memantau dan menilai sumber daya manusia (SDM), tata laksana, dan keorganisasian kejaksaan.

“Tekait dengan hal itu Komisi Kejaksaan berwenang dalam penguatan fungsi kejaksaan. Mulai dari profesionalisme nya juga pengetahuan jaksa tersebut.

Lembaga pengawas ekternal (Auxiliary State Institusion) seperti Komisi Kejaksaan merupakan satu bentuk keterbukaan Negara dalam menerima kritik dari masyarakat.

Tujuannya adalah, agar masyarakat merasa nyaman dan terayomi ketika berhadapan dengan proses penegakan hukum. lembaga pengawas external berperan strategis untuk memastikan pelaksanaan kewenangan penegakan hukum berjalan sesuai ketentuan, dan menjamin perlindungan bagi warga Negara dari penyalahgunaan wewenang oleh aparatur penegak hukum.

Hal ini menjadi jawaban atas upaya pelemahan peran aktif masyarakat dalam penegakan supremasi hukum.
Lembaga pengawas eksternal berperan strategis untuk memastikan pelaksanaan kewenangan penegakan hukum berjalan sesuai ketentuan, dan menjamin perlindungan bagi warga Negara dari penyalahgunaan wewenang oleh aparatur penuntut hukum.

Hal ini menjadi jawaban atas upaya pelemahan peran aktif masyarakat dalam penegakan supremasi hukum, ini yang disampaikan oleh komisi kejaksaan.

Keberadaan mafia kasus dalam sistem peradilan di Indonesia menjadi perhatian serius Komisi Kejaksaan. maka dari itu, peningkatan profesionalisme dan etika seorang jaksa menjadi salah satu tugas utama Komisi Kejaksaan.

Yang menjadi point penting adalah, bagaimana cara agar masyarakat awam untuk mengerti tentang pengaduan atas tindakan oknum jaksa yang nakal tersebut, ini penting juga bagi komisi kejaksaan melakukan agenda penyuluhan, serta bekerjasama dengan perangkat desa disetiap daerah khususnya Kabupaten/Kota untuk menyesuaikan keadaan yang memang mungkin masyarakat awampun tidak begitu paham atas tata cara laporan tersebut.

Tidak semua orang paham akan hal ini, sehingga penegakan hukum bisa maksimal dalam melaksanakan tupoksi nya untuk memastikan apakah kewenangan yang dimiliki oleh komisi kejaksaan memang betul untuk semua masyarakat, tak terkhusus hanya untuk orang yang mengerti saja.

Penulis hanya menyampaikan pandangan tentang kebingungan masyarakat awam yang tidak jelas dengan peristiwa nyata yang menimpa korban pendzoliman secara pribadi yang dilakukan oleh oknum jaksa tersebut.

Mengingat memberikan keputusan hukuman terhadap orang yang belum tentu bersalah adalah suatu pendzoliman keras, karena ini adalah menyangkut nasib seseorang, dan apalagi mencari kesalahan orang demi keuntungan pribadi adalah dosa besar.

Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang berbuat dzalim kepada saudaranya, baik terhadap kehormatannya maupun sesuatu yang lainnya, maka hendaklah ia meminta kehalalannya darinya hari ini juga sebelum dinar dan dirham tidak lagi ada. Jika ia punya amal salih, maka amalannya itu akan diambil sesuai dengan kadar kezaliman yang dilakukannya. dan jika ia tidak punya kebaikan, maka keburukan orang yang ia dzalimi itu dibebankan kepadanya.” (HR Bukhari)

Sumber berita :
Rangkuman dari beberapa media online di Indonesia tentang program dorongan Presiden kepada Kejaksaan Agung dalam menindak tegas oknum jaksa yang nakal, serta sumber dari curhatan masyarakat yang mengalami peristiwa pendzoliman oleh oknum jaksa di Salah satu Kabupaten di Provinsi Bengkulu Khususnya, ditanah air pada umumnya.

Oleh : Bayu Purnomo Saputra, SH (Advokat / Praktisi Hukum)***

Bengkulu

Ruang Hukum Lintang Keadilan Membuka Layanan Konsultasi Hukum Gratis Bagi Warga Bengkulu

Published

on

 355 X dibaca

BENGKULU, Netralitasnews.com Pentingnya penegakan hukum yang berkeadilan adalah dengan adanya keadilan dalam penegakan hukum diharapkan hukum dapat tertib dan tidak merendahkan martabat warga negara.

Dengan kata lain hukum selalu melayani kepentingan, keadilan, ketertiban, dan ketenteraman warga negara.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penegakan hukum di indonesia tidak berjalan optimal.  karena kurangnya komitmen yang dilakukan aparat penegak hukum di Indonesia dalam menjalankan tugasnya dengan benar.

Tidak ada penerapan pancasila dalam penegakan hukum yang terjadi di masyarakat. artinya segala sesuatu yang berkaitan dengan hukum itu harus mencerminkan nilai – nilai pancasila serta berkomitmen dalam sebuah aturan yang sudah ditetapkan oleh undang undang itu sendiri.

Pentingnya perlindungan dan penegakan hukum adalah untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil, damai yang sejahtera dengan tanpa adanya pelanggaran HAM dan pelanggaran hukum lainnya seperti pembunuhan, penipuan, penganiayaan, pengeroyokan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), permasahan baik pidana maupun perdata dan lain sebagainya.

Disini bersama – sama TIM Ruang Hukum Lintang Keadilan,  memberikan ruang kepada masyarakat diseluruh Indonesia terkhusus yang tepatnya berdomisili diwilayah Provinsi Bengkulu untuk tidak khawatir lagi ketika berbenturan dengan permasalahan hukum yang terjadi, karena memfasilitasi layanan konsultasi hukum gratis bagi warga yang ingin berkonsultasi terkait dengan hukum.

” BPS n Parnerts TIM Ruang Hukum Lintang Keadilan, yang mana dalam hal ini memberikan ruang kepada masyarakat diseluruh Indonesia terkhusus berdomisili diwilayah Provinsi Bengkulu untuk tidak khawatir lagi ketika berbenturan dengan permasalahan hukum yang terjadi. karena kami memfasilitasi layanan konsultasi hukum gratis bagi warga yang ingin berkonsultasi terkait dengan hukum, ” jelas BPS

Bagi masyarakat yang ingin berkonsultasi langsung silahkan datang ke Alamat kami di Jalan Sungai Rupat RT/RT.023/004 Kelurahan Lingkar Barat, Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, ” Imbuhnya lagi.

Bagi yang mau berkonsultasi hukum melalui layanan via wa juga akan kami layani, silahkan saja konsultasi lewat via WhatsApp di No. Hp/Wa. 0822-8267-8118.
Kami juga menerima layanan jasa bantuan hukum yang tentunya layanan jasa tersebut tidak memberatkan masyarakat itu sendiri. ” Tandasnya (Red).

Continue Reading

Bengkulu

Kantor Hukum BPS And Partners Minta APH Agar Hargai Saksi

Published

on

 390 X dibaca

BENGKULU, Netralitasnews.com – Dalam proses hukum dimana seseorang saksi sangat diperlukan dan dibutuhkan. sehingga saksi sebagai orang yang penting dalam proses hukum, saksi merupakan salah satu alat bukti, yang keterangannya dibutuhkan untuk keperluan proses pembuktian di muka hakim, dalam suatu perkara di persidangan. (18/04/2022)

Keterangan saksi sebagai salah satu alat bukti  dalam proses pidana menurut KUHAP, dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif dapat disimpulkan bahwa ;

Dalam Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (”KUHAP”) disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah:
Keterangan saksi, keterangan ahli, Surat, Petunjuk dan Keterangan terdakwa.

Dari lima alat bukti yang sah ,saksi merupakan point yang pertama dalam alat bukti yang sah. Bahwa kedudukan saksi  dalam perkara pidana merupakan sarana pembuktian yang ampuh untuk mengungkap dan membongkar kejahatan.

Dalam tahap penyelidikan sampai pembuktian di muka sidang pengadilan, bahkan dalam praktek, kedudukan saksi sangatlah penting, sering menjadi faktor penentu dan keberhasilan dalam pengungkapan suatu kasus.

Tanpa kehadiran dan peran dari saksi, dapatlah dipastikan suatu kasus akan menjadi peristiwa yang kabur, karena dalam sistem hukum yang berlaku di Indonesia, yang menjadi referensi dari penegak hukum adalah pernyataan atau keterangan  yang hanya dapat diperoleh dari saksi atau ahli dan Peranan keterangan saksi sebagai salah satu alat bukti dalam proses perkara pidana akan dapat mengungkap tindak pidana yang terjadi.

Sebab keterangan saksi dari sifatnya sebagai alat bukti yang utama maka keterangan saksi akan sangat sulit untuk membuktikan bahwa tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa disangkal oleh terdakwa.

Jadi penulis selaku Advokat /Pengacara yang dalam hal ini ingin memberikan pandangan terhadap pentingnya peranan saksi dalam proses hukum, yang membuat kami tergerak hati untuk menyampaikan tentang pentingnya saksi untuk kita hargai selaku APH, ini menjadi sorotan besar kami terhadap sebuah peristiwa yang mana pemanggilan saksi terhadap suatu perkara tersebut saksi kurang dihargai, menimbulkan kesan bahwa saksi ini tidak mempunyai hak lindung dalam proses hukum.

Salah satu contoh untuk menghormati para saksi yang mau bersaksi mestinya dipanggil dengan surat resmi panggilan saksi oleh instansi yang membutuhkan keterangan saksi, bukan memanggil tanpa prosedur yang seyogyanya dilakukan oleh para Oknum APH, yang konon kabarnya memberikan panggilan hanya lewat komunikasi udara seluller saja dan itupun memanggil dengan sedikit nada menekan untuk saksi harus datang. namun pangilan resmi tersebut tidak dilayang sebagaimana mestinya saksi mendapatnya secara langsung.

Menilai proses pemanggilan saksi yang kurang memberikan perhatian positif terhadap aturan dan prosedur hukum yang berlaku, Sehingga disini peran APH sangat penting untuk menjalankan profesionalitasnya dalam menegakkan suatu prosedur hukum yang benar sesuai dengan aturan undang-undang yang berlaku dalam proses pemanggilan saksi, sehingga nantinya kita tidak terjebak oleh aturan-aturan yang tidak sesuai dengan prosedur resmi dikemudian hari dalam tindakan apapun yang masuk dalam ranah hukum. (Rls)

Penulis : Advokat Bayu Purnomo Saputra.,S.H. 0822-8267-8118

Dasar Hukum:
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. UU No. 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban, Pasal 1 angka 26 UU No 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Referensi :
Internet dan surat kabar.

Continue Reading

Bengkulu

Lahirnya Pergub Bengkulu Nomor 31 Tahun 2021 Mengkebiri Kebebasan Pers

Published

on

 710 X dibaca

BENGKULU -NN.com – Peraturan gubernur nomor 31 tahun 2021 dikecam keras oleh jurnalis serta pemilik perusahaan media massa, pasalnya karena lahirnya pergub nomor 31 tahun 2021 saat ini menjadi polemik, sehingga membuat para ratusan jurnalis yang tergabung dalam Forum (FMMB) yang dikomandoi Anjang Sumitro melakukan Aksi damai di kantor gubernur. selasa (22/03/2022).

Mirisnya Aksi damai yang dilakukan jurnalis tersebut merupakan yang pertama kali terjadi di Indonesia, mengigat lahirnya pergub nomor 31 tersebut, seakan-akan mengkebiri kebebasan Pers di provinsi Bengkulu, mengenai hal itu melalui aksi demo yang dilakukan oleh forum media masa bengkulu (FMMB). Mangajukan tuntutan yang berisi

1). Cabut Peraturan Gubernur (Pergub) Bengkulu Nomor 31 Tahun 2021;

2). Hapuskan Aturan Verifikasi media dan UKW Dewan Pers Dipergub No. 31 Tahun 2021 karena bertentangan dengan konstitusi amanah UU No.40 Tahun 1999 Tentang Pers;

3). Meminta seluruh OPD dan FKPD, se-Provinsi Bengkulu tidak berpedoman pada Pergub Nomor 31 Tahun 2021 i e f.

4). Meminta seluruh kepala Daerah se-provinsi Bengkulu untuk tidak membungkam kebebasan Pers dengan menerbitkan aturan yang sama dengan Pergub Bengkulu No 31 Tahun 2021;

5). Menolak segala bentuk pembungkaman kebebasan Pers.

Koordinator lapangan (Korlap) FMMB, Aprin Gundul (media Indonesiadetik.com) dari Kaur dalam orasinya, mengatakan kami minta Gubernur segera mencabut Pergub No 31 tersebut karena bertentangan dengan UU Pers No 40 tahun 1999 tentang kebebasan pers.

Ia menambahkan selain mengekang kebebasan pers, Pergub tersebut juga mengancam keberlangsungan kehidupan pers yang ada di Bengkulu.

Asrin dengan lantang menyuarakan tuntutan pencabutan pergub no 31 karena ada kesenjangan dan ketidak adilan salah satunya adalah dugaan pergub cacat hukum dan tidak berdasarkan hirarki regulasi yang berlaku di Indonesia.

Sangat disayangkan Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah ketika para wartawan melakukan aksi tolak pergub 31 tidak berada di tempat dan perwakilan FMMB hanya di terima oleh asisten II dan Plt kadis kominfo provinsi bengkulu.

Dilain sisi Aktifis Ishak Burmansyah menjelaskan yang mana tanggung jawab Dewan Pers untuk melakukan pembinaan terhadap kehidupan pers nasional tidak terjadi pada kondisi ini. Dewan Pers malah sibuk memotret media yang belum diverifikasi sebagai media abal-abal, mengigat amanat UU Pers bentuknya adalah hanya mendata perusahaan pers bukan memverifikasi media.

“Sebagaimana kita ketahui Dewan Pers yang merupakan sebagai lembaga independen yang didirkan untuk tujuan mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional,” jelasnya

Tambahnya terkait polemik yang terjadi saat ini maka dari itu dirinya meminta kepada gubernur untuk mencabut pergub nomor 31 tahun 2021, menurutnya pergub 31 itu akan membuat perselisihan antara jurnalis, dan bahkan bisa membuat kegaduhan.

“Saya harap kepada gubernur Bengkulu untuk segera mencabut pergub 31 tersebut, karena itu sama saja mengekibiri kebebasan Pers,” ujarnya

Sementara itu koordinator aksi demo, Anjang Sumitro mengatakan Pergub 31 telah mengkerdilkan insan Pers serta bertentangan dengan UU No 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

“Ada beberapa poin dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Bengkulu Nomor 31 Tahun 2021 tersebut yang dianggap begitu tidak mementingkan para insan pers dan mengekang para awak media dalam liputan sehingga membatasi ruang gerak insan pers,”ungkapnya.

Anjang berjanji jika aksi ini tidak hanya sebatas kali ini saja dan pada aksi selanjutnya mungkin akan mengerahkan massa yang lebih banyak sampai Pergub tersebut dicabut.

Lanjut koordinator aksi Anjang Sumitro mengatakan tentu kita tidak akan diam saja, kita akan memantau hingga ini benar-benar ada kejelasan, karena ini mengenai nasib warga Gubernur Bengkulu yang dijanjikan kesejahteraan.

Perlu di ketahui juga media massa adalah salah satu pilar dalam negara ini,dengan adanya Pergub tersebut akan berdampak pada perusahaan media dan profesi sebagai jurnalis di provinsi bengkulu ini. Lanjut Anjang Sumitro intinya !! karena pergub no 31 tahun 2021 ini tidak berdasarkan kan UU pers maka kita minta Gubernur Bengkulu untuk segera mencabutnya dan perlu di ketahui Peraturan Dewan Pers bukan produk hukum dan tidak bisa dijadikan rujukan hukum. ” akhir Anjang. (Rls/Tim)

Continue Reading

Populer

error: Content is protected !!