Connect with us

Empat Lawang

UPTD Puskesmas Tebing Tinggi Selengggarakan Kegiatan Pemicuan dan Pendampingan Pilar 1 STBM

Published

on

 9,305 X dibaca hari ini

EMPAT LAWANG, Netralitasnews.com -UPTD Puskesmas Tebing Tinggi menyelenggarakan kegiatan Pertemuan Pemicuan dan Pendampingan Pilar 1 STBM di Aula UPTD Puskesmas Tebing Tinggi. Sabtu, (22/11/2025), pukul 09.00 WIB.

Kegiatan diawali dengan sambutan oleh Kepala UPTD Puskesmas Tebing Tinggi, Ibu Rafiqoh Karamah, S.Kep., Ners., M.Kes.

Dalam sambutannya beliau mengarahkan bahwa kegiatan Pemicuan Pilar 1 STBM ini harus dilaksanakan agar tercapainya Kelurahan ODF dan peran serta kader sangatlah penting dalam membantu puskesmas untuk meningkatkan kemauan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan di masyarakat.

Kader kesehatan sebagai perpanjangan tangan puskesmas di masyarakat, diharapkan mampu mengajak masyarakat untuk melaksanakan implementasi lima pilar STBM dalam kehidupan sehari-hari yang tak lepas dari pengawasan Bapak/ Ibu Lurah.

Peserta pertemuan berasal dari Kelurahan Jayaloka dan Kelurahan Pasar, yang langsung dihadiri oleh Lurah, RT/RW, kader dan penjawil kesehatan. Pertemuan Pemicuan dan Pendampingan Pilar 1 STBM merujuk pada pertemuan yang fokus pada pilar pertama dari Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), yaitu Penghentian Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS).

Pertemuan ini bertujuan untuk memicu perubahan perilaku masyarakat agar tidak lagi melakukan buang air besar sembarangan dan beralih ke penggunaan jamban sehat, serta memberikan pendampingan dalam proses tersebut.

Pemaparan mengenai Pilar 1 STBM yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan, yang disampaikan oleh narasumber yaitu Veni Lara Santi, SKL perilaku buang air besar sembarangan merupakan suatu tindakan membuang kotoran/ tinja di ladang kebun, semak-semak, sungai, pantai, atau area terbuka lainnya dan dibiarkan mengkontaminasi lingkungan tanah, udara dan air.

Stop BABS harus dilakukan karena tinja atau kotoran manusia merupakan media tempat berkembang dan berinduknya bibit penyakit menular, jika tinja tersebut dibuang disembarang tempat, maka bibit penyakit tersebut akan tersebar ke lingkungan dan masuk ke dalam tubuh manusia.

Penyakit yang muncul akibat BABS diare, kolera disentri dan Hepatitis A. Pada saat diskusi para peserta diberi media susun untuk melihat sejauh mana pemahaman mereka mengenai alur kontaminasi terkait Pilar 1 STBM yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan.

Peran serta kader dalam mencegah BABS dapat dilakukan dengan cara mengedukasi dan penyuluhan kepada masyarakat; pendataan dan pemantauan perilaku masyarakat; mendampingi rumah tangga yang belum memiliki jamban; penggerakkan masyarakat dengan melibatkan tokoh masyarakat, RT/ RW dan warga seperti pada saat gotong royong dan posyandu; koordinasi dengan puskesmas dan pemerintah setempat; serta memberikan contoh perilaku yang baik, ” Ujar narasumber lainnya Todi Hikmal, SKM. (@YU-RED).

Advertisement

Empat Lawang

POLRES Panggil Oknum Guru di Duga Hina Profesi Wartawan

Published

on

 2,535 X dibaca hari ini

EMPAT LAWANG, Netralitasnews.com – Kasus dugaan penghinaan terhadap profesi wartawan yang dilaporkan oleh seorang jurnalis TVRI berinisial DA kini memasuki tahap penyelidikan.

Pihak kepolisian Polres Empat Lawang telah melakukan pemanggilan awal terhadap terlapor, seorang oknum guru di salah satu SMPN Tebing Tinghi berinisial “AK” Kamis, 16 April sekitar jam 10. pagi.

Pemanggilan tersebut merupakan bagian dari proses klarifikasi dan pengumpulan keterangan awal dalam tahap penyelidikan (lidik).

Dalam proses ini, penyidik mendengarkan langsung keterangan dari pihak terlapor guna melengkapi berkas perkara yang sebelumnya telah disertai laporan dan keterangan saksi.

Kasat Reskrim Polres Empat Lawang melalui Kanit Pidum, Ipda. Yulius, membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan pemanggilan terhadap terlapor.

“Sejauh ini, kami telah memanggil yang bersangkutan dan mendengarkan keterangannya. untuk selanjutnya, proses masih terus berlanjut ke tahap penyelidikan, ”ungkapnya.

Kasus ini bermula dari laporan DA yang merasa profesinya sebagai wartawan dihina, disertai dugaan adanya unsur fitnah. hngga saat ini, Unit Pidana Umum (Pidum) Polres Empat Lawang masih terus mendalami perkara tersebut dengan mengumpulkan bukti tambahan dan keterangan lanjutan.

Pihak kepolisian memastikan akan menangani kasus ini secara profesional dan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

Sementara itu, perkembangan kasus dugaan penghinaan profesi wartawan ini masih terus bergulir dan menjadi perhatian publik, khususnya di kalangan insan pers di Kabupaten Empat Lawang. (@**).

Continue Reading

BANNER

PJ. Pemerintah Desa Muara Lintang Lama Kec. Pobar Mengucapkan Selamat Dirgahayu Kabupaten Empat Lawang ke-19, 20 April 2007 ~ 20 April 2026

Published

on

 3,128 X dibaca hari ini

EMPAT LAWANG, Netralitasnews.com – Pj. Kepala Desa Muara Lintang Lama, Kecamatan Pendopo Barat Kabupaten Empat Lawang Mengucapkan ; Selamat DIRGAHAYU KABUPATEN EMPAT LAWANG ke -19, 20 April 2007 – 20 April 2026.

” DENGAN SEMANGAT HARI JADI KE-19 KABUPATEN EMPAT LAWANG MARI KITA BERSINERGI MEWUJUDKAN EMPAT LAWANG MADANI JILID II MELALUI PEMERINTAHAN PROFESIONAL, EKONOMI MANDIRI, DAN PELAYANAN BERKUALITAS “

Tertanda : SAFRIN, S.Pd Pj. Kepala Desa Muara Lintang Lama, Kecamatan Pendopo Barat Kabupaten Empat Lawang.(@Red).

Continue Reading

Empat Lawang

Di Balik Tangis Bayi, Dugaan Skenario Penemuan yang Mengusik Nurani Publik

Published

on

 2,675 X dibaca hari ini

EMPAT LAWANG, Netralitasnews.com –  Sumatera Selatan — Tangisan bayi yang sempat menggugah rasa iba masyarakat kini berubah menjadi tanda tanya besar. Kasus penemuan bayi di semak-semak Jalan Tembusan 3B yang sebelumnya menyentuh sisi kemanusiaan, kini justru dibayangi dugaan manipulasi alur kejadian.

Sorotan tajam datang dari media sosial. Unggahan akun Facebook bernama Sutri Yanti memicu gelombang reaksi publik, setelah menyebut bahwa peristiwa tersebut diduga bukan sekadar penemuan biasa.

“Kasus viral penemuan bayi Tebing Tinggi Empat Lawang Sumsel. Ternyata maling teriak maling. Yang menemukan bayi di semak belukar adalah orang tua kandungnya sendiri,” tulisnya.

Pernyataan tersebut sontak menggiring opini publik ke arah yang lebih dalam—bahwa ada kemungkinan peristiwa yang semula dianggap sebagai tragedi kemanusiaan, justru merupakan sebuah skenario yang disusun untuk menutupi aib.

Lebih jauh, dalam unggahan itu disebutkan bahwa narasi penemuan bayi diduga sengaja dibentuk agar terlihat alami dan mengundang simpati.

“Berharap berdalih menutup aib. Dibuatlah skenario sebagus mungkin bahwa dia dapat anak. Dan akhirnya skenario palsunya terbongkar,” lanjutnya.

Jika dugaan ini benar, maka peristiwa ini bukan hanya soal penelantaran anak, tetapi juga bentuk manipulasi terhadap empati publik. Rasa iba masyarakat yang tulus bisa saja dimanfaatkan sebagai tameng untuk menutupi fakta yang sebenarnya.

Fenomena ini menjadi cermin buram kondisi sosial, di mana rasa malu dan tekanan sosial diduga lebih diutamakan daripada tanggung jawab terhadap nyawa seorang anak yang tak berdosa.

Lebih ironis lagi, jika benar skenario tersebut melibatkan orang tua kandung, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hukum, tetapi juga nilai kemanusiaan yang paling mendasar.

Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat kini dihadapkan pada dua kemungkinan: antara fakta yang sesungguhnya atau sekadar opini yang berkembang liar di media sosial.

Namun satu hal yang pasti, kasus ini telah membuka ruang diskusi yang lebih luas—tentang moralitas, tanggung jawab, dan bagaimana sebuah peristiwa bisa dikemas sedemikian rupa untuk memengaruhi persepsi publik.

Hingga saat ini, pihak berwenang belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Proses penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan kebenaran di balik peristiwa ini.

Masyarakat pun berharap, fakta yang sesungguhnya segera terungkap. Sebab di balik semua ini, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan—seorang bayi yang seharusnya mendapatkan kasih sayang, justru menjadi korban dari situasi yang belum sepenuhnya jelas.(@Rls). 

Continue Reading

 9,306 X dibaca hari ini,  10 X dibaca hari ini

Populer

error: Content is protected !!