Connect with us

Empat Lawang

Wartawan Ke Kantor Polres di Cegat, di Intograsi BAK Teroris Hingga Tilang

Published

on

 3,105 X dibaca hari ini

EMPAT LAWANG SUMATERA SELATAN, Netralitasnews.com – Bermula saat wartawan media ini berkunjung ke – Mabes Polres Empat Lawang hendak menggali informasi pemberitaan, Jum’at (01/04/2022) pagi.

Pada saat hendak masuk menuju perkarangan wilayah kantor Polres tiba – tiba dicegat oleh salah seorang anggota Polres yang sedang berjaga di Pos penjagaan yang berinisial FR.

“Stop, stop !” tukas FR dengan keras.
Lalu wartawan berhenti dan mematikan mesin.

” Ada apa pak ?” tanya wartawan.
” itu kenapa yang menumpang motormu tidak menggunakan helm ?” tanya FR.

” Silahkan turun dan berjalan kaki saja pak ! ” Pinta FR kepada wartawan menyuruh penumpang untuk berjalan kaki menuju ketempat parkiran Polres, sedangkan wartawan dipersilahkan menuju parkiran.

Namun pada saat wartawan hendak menyalakan mesin motor, tiba – tiba FR mencegah lagi dan menanyakan kamu mau kemana dan dari mana.

” sebentar, sebentar ! ” ujar FR.
” kalian mau kemana dan dari mana ? ” tanya FR Lagi.

” Kami dari media pak, mau menemui Kasat Narkoba, ” jelas wartawan.

Lalu FR menyuruh wartawan untuk turun dari motor dan duduk didepan Pos.

” Nanti dulu kalau begitu, kamu duduk dulu disini ! ” ujar FR.

Lalu FR memerintahkan anggotanya untuk memanggil Anggota Satlantas.

” Panggil Lantas ! ” teriak FR.
” Tilang motor ini !, perintah FR dengan nada keras.

” Catat ini nama saya !” bentak FR lagi, sembari menunjuk dan memperlihatkan nama yang ada dibajunya.

” Saya yang menilang!” bentak FR menantang wartawan.

Lalu wartawan meminta izin untuk memberitahu rekan kerjanya yang tidak jauh dari lokasi karena kerja Tim.

” sebentar pak !”, ujar wartawan,
” Saya mau memberitahu teman saya dulu, ” ujarnya.

Lantas FR tidak mengizinkan wartawan untuk memberitahu temannya, tiba-tiba anggota penjaga yang lain mendekati wartawan yang posisinya sudah di dekat motornya.

” Mana konci motor, mana konci motor ?” Tanya anggota dengan keras, sini ! Berikan ke saya, ” bentaknya sambil merampas konci motor ditangan wartawan.

Karna wartawan merasa bahwa belum ada kejelasan hukum untuk menyerahkan motor, maka wartawan menolak permintaan anggota, dan mempertahankan motornya.

Lalu anggota merangkul wartawan sambil menggaet lengan serta badan wartawan dengan kuat.

Lalu berdatangan beberapa anggota Polres yang lainnya dan salah seorang anggota yang tampak lebih senior merangkul wartawan dan mengajak masuk kantor Polres.

Saat sudah tiba didepan penjagaan tamu, lalu wartawan langsung diintrogasi oleh anggota tersebut, sambil menunjuk – nunjuk ke muka wartawan dan menanyakan masalah kelengkapan atribut kendaraan bermotor.

Setelah diintrogasi lalu wartawan diajak lagi oleh anggota yang lainnya mengarah kedekat ruangan Reskrim.

Saat tiba ditempat itu sontak anggota berkerumun dihadapan wartawan dan menanyakan ada apa, dan salah seorang menanyakan kelengkapan surat-surat motor.

Saat wartawan mengeluarkan dompet dan memberikan STNK, salah seorang anggota lainnya hendak merampas dompet wartawan, dan wartawan tetap mempertahankan dompetnya untuk tidak dirampas oleh anggota.

Karna wartawan tidak mau memberikan dompet, maka anggota tersebut menonjokkan botol Aqua yang dipegangnya ke perut wartawan sebanyak dua kali sambil mengatakan ” tuja tulah kau ni, ku tuja kau ! (saya tusuk kamu), ujar anggota tersebut.

Wartawan hanya terdiam saja sendirian dan tidak tau berbuat apa lagi, karna diperlakukan seakan – akan telah melakukan kesalahan besar.

Kemudian salah seorang anggota yang datang dari ruangan Reskrim merangkul wartawan dan mengajak untuk masuk keruangannya.

Saat tiba diruangan tersebut lalu anggota tersebut mengatakan dengan nada yang tenang.

“Yang dibuat cak ini bukan kau bae” ujarnya. (bukan kamu saja yang diperlakukan seperti ini). Ujar anggota yang dari ruang reskrim

Belum selesai orang tersebut bicara, lalu saudara FR masuk keruangan dan memanggil wartawan untuk menghadap Pak Hendri Waka Polres.

” mana tadi, mana tadi ? ” Sentak FR,  menanyakan keberadaan wartawan.

” kalau motor itu lolos, saya berhenti jadi Polisi “, tukas FR sambil membentak.

Ahirnya wartawan bertemu dengan Waka Polres dan diajaknya masuk keruangan, dimediasi hingga akhirnya ditilang.

Atas peristiwa tersebut sampai tugas wartawan yang tadinya hendak meliput menjadi terhambat.

Hingga berita ini di tayangkan, tidak tahu jelas apa sebenarnya salah Wartawan, sampai terkesan di perlakukan seolah – olah terduga seorang teroris. (Tim/Red).  

Advertisement

BANNER

PJ. Pemerintah Desa Muara Lintang Lama Kec. Pobar Mengucapkan Selamat Dirgahayu Kabupaten Empat Lawang ke-19, 20 April 2007 ~ 20 April 2026

Published

on

 1,479 X dibaca hari ini

EMPAT LAWANG, Netralitasnews.com – Pj. Kepala Desa Muara Lintang Lama, Kecamatan Pendopo Barat Kabupaten Empat Lawang Mengucapkan ; Selamat DIRGAHAYU KABUPATEN EMPAT LAWANG ke -19, 20 April 2007 – 20 April 2026.

” DENGAN SEMANGAT HARI JADI KE-19 KABUPATEN EMPAT LAWANG MARI KITA BERSINERGI MEWUJUDKAN EMPAT LAWANG MADANI JILID II MELALUI PEMERINTAHAN PROFESIONAL, EKONOMI MANDIRI, DAN PELAYANAN BERKUALITAS “

Tertanda : SAFRIN, S.Pd Pj. Kepala Desa Muara Lintang Lama, Kecamatan Pendopo Barat Kabupaten Empat Lawang.(@Red).

Continue Reading

Empat Lawang

Di Balik Tangis Bayi, Dugaan Skenario Penemuan yang Mengusik Nurani Publik

Published

on

 1,167 X dibaca hari ini

EMPAT LAWANG, Netralitasnews.com –  Sumatera Selatan — Tangisan bayi yang sempat menggugah rasa iba masyarakat kini berubah menjadi tanda tanya besar. Kasus penemuan bayi di semak-semak Jalan Tembusan 3B yang sebelumnya menyentuh sisi kemanusiaan, kini justru dibayangi dugaan manipulasi alur kejadian.

Sorotan tajam datang dari media sosial. Unggahan akun Facebook bernama Sutri Yanti memicu gelombang reaksi publik, setelah menyebut bahwa peristiwa tersebut diduga bukan sekadar penemuan biasa.

“Kasus viral penemuan bayi Tebing Tinggi Empat Lawang Sumsel. Ternyata maling teriak maling. Yang menemukan bayi di semak belukar adalah orang tua kandungnya sendiri,” tulisnya.

Pernyataan tersebut sontak menggiring opini publik ke arah yang lebih dalam—bahwa ada kemungkinan peristiwa yang semula dianggap sebagai tragedi kemanusiaan, justru merupakan sebuah skenario yang disusun untuk menutupi aib.

Lebih jauh, dalam unggahan itu disebutkan bahwa narasi penemuan bayi diduga sengaja dibentuk agar terlihat alami dan mengundang simpati.

“Berharap berdalih menutup aib. Dibuatlah skenario sebagus mungkin bahwa dia dapat anak. Dan akhirnya skenario palsunya terbongkar,” lanjutnya.

Jika dugaan ini benar, maka peristiwa ini bukan hanya soal penelantaran anak, tetapi juga bentuk manipulasi terhadap empati publik. Rasa iba masyarakat yang tulus bisa saja dimanfaatkan sebagai tameng untuk menutupi fakta yang sebenarnya.

Fenomena ini menjadi cermin buram kondisi sosial, di mana rasa malu dan tekanan sosial diduga lebih diutamakan daripada tanggung jawab terhadap nyawa seorang anak yang tak berdosa.

Lebih ironis lagi, jika benar skenario tersebut melibatkan orang tua kandung, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hukum, tetapi juga nilai kemanusiaan yang paling mendasar.

Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat kini dihadapkan pada dua kemungkinan: antara fakta yang sesungguhnya atau sekadar opini yang berkembang liar di media sosial.

Namun satu hal yang pasti, kasus ini telah membuka ruang diskusi yang lebih luas—tentang moralitas, tanggung jawab, dan bagaimana sebuah peristiwa bisa dikemas sedemikian rupa untuk memengaruhi persepsi publik.

Hingga saat ini, pihak berwenang belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Proses penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan kebenaran di balik peristiwa ini.

Masyarakat pun berharap, fakta yang sesungguhnya segera terungkap. Sebab di balik semua ini, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan—seorang bayi yang seharusnya mendapatkan kasih sayang, justru menjadi korban dari situasi yang belum sepenuhnya jelas.(@Rls). 

Continue Reading

Empat Lawang

Gabungan Wartawan Akan Laporkan Oknum Guru yang Diduga Hina Profesi Jurnalis

Published

on

 2,056 X dibaca hari ini

EMPAT LAWANG, Netralitasnews.com – Gabungan wartawan dari media online, cetak, dan televisi yang tergabung dalam Forum Komunikasi (Forkom) Diskominfo Kabupaten Empat Lawang berencana melaporkan seorang oknum guru SMP Negeri 5 Tebing Tinggi berinisial CA. Oknum tersebut diduga telah menghina profesi wartawan melalui komentar di media sosial Facebook.

Peristiwa ini bermula saat salah satu media online memuat pemberitaan terkait dugaan penimbunan gas elpiji di sebuah rumah mewah di Kecamatan Tebing Tinggi. Namun, alih-alih memberikan kritik yang konstruktif, CA justru melontarkan komentar yang dinilai merendahkan profesi jurnalis.

Dalam komentarnya, CA menyebut bahwa berita tersebut merupakan “pembodohan publik” serta menilai tulisan jurnalis tidak memenuhi unsur dasar jurnalistik 5W+1H.

Ia bahkan secara terbuka menyarankan agar wartawan “belajar lagi cara menulis”, yang dinilai banyak pihak sebagai bentuk arogansi yang tidak pada tempatnya.

“Berita ini tidak ada unsur 5W + 1H. Mestinya sebelum membuat berita, wartawan tersebut harus belajar dulu,” tulis CA pada Jumat (10/4).

Tak hanya itu, CA juga secara personal menyasar salah satu jurnalis televisi, Diah Anggraini dari TVRI. Dalam unggahannya, ia menuding produk jurnalistik yang dihasilkan cenderung menjatuhkan pihak tertentu.

“Ya betul, belajar menulis dengan tata bahasa yang benar. Termasuk Anda, Bu Diah, pencari berita yang sukanya menjatuhkan orang. Nanti saya kritik, tidak terima. Mengkritik orang semena-mena, giliran dikritik tidak terima. Tidak adil namanya,” tulisnya.

Diri nya secara Prontal menyuruh wartwan mencari ide yang lebih kreatif lagi dalam menguak suatu berita seperti menyuruh wartawan mencari berita ke akhirat.

” Bukan nya anda yang hobi nya nimbrung, setiap berita viral di tangkap, coba cari ide sendiri ,cari ke akhirat misal nya,” ungkap Seorang guru Bahasa Indonesia pendidik Generasi Bangsa di media sosial.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Empat Lawang, Rodi Hartono, menyayangkan sikap oknum guru yang dinilai terlalu frontal dalam menyampaikan pendapat di ruang publik.

Menurutnya, sebagai aparatur sipil negara (ASN) sekaligus tenaga pendidik, seharusnya yang bersangkutan dapat memberikan contoh yang baik dalam berkomunikasi, bukan justru menggeneralisasi dan menghakimi profesi wartawan.

“Tidak semua wartawan seperti itu. Masih banyak wartawan yang bekerja secara profesional, bahkan telah mengantongi sertifikasi dari Dewan Pers mulai dari jenjang muda hingga madya. Jika ada kesalahan oleh oknum, jangan digeneralisasi seolah mewakili seluruh profesi,” tegas Rodi.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, mengingat dampaknya yang luas terhadap persepsi publik.

“Bijaklah dalam memberikan komentar di media sosial. Apa yang disampaikan di ruang publik dapat memengaruhi pemahaman masyarakat secara luas,” tambahnya.

Hingga berita ini diterbitkan, organisasi wartawan yang tergabung dalam Forkom Diskominfo Empat Lawang berencana mendatangi Dinas Pendidikan Kabupaten Empat Lawang untuk menyampaikan sejumlah sikap resmi, antara lain:
• Setiap profesi, baik tenaga pendidik maupun insan pers, memiliki peran strategis dalam pembangunan, khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjaga keterbukaan informasi publik.

• Tenaga pendidik sebagai figur teladan diharapkan senantiasa menjaga etika komunikasi, baik di lingkungan sekolah maupun di ruang publik.
• Perbedaan pandangan atau miskomunikasi hendaknya disikapi secara bijak tanpa saling menyudutkan.
• Penting bagi semua pihak untuk mengedepankan etika, saling menghormati, serta melakukan klarifikasi apabila terjadi kesalahpahaman.
• Peristiwa ini diharapkan menjadi pembelajaran bersama untuk memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan insan pers.
• Pihak terkait didorong untuk memberikan penjelasan secara proporsional guna menghindari kesalahpahaman yang lebih luas.

Gabungan wartawan juga mengajak seluruh pihak untuk menahan diri, menjaga kondusivitas, serta terus membangun hubungan yang harmonis dan konstruktif ke depan. (**).

Continue Reading

 3,106 X dibaca hari ini,  5 X dibaca hari ini

Populer

error: Content is protected !!