Empat Lawang
Diduga Pemotongan BLT-DD Suka Dana Telah Merugikan Negara Rp. 32.600.000, 00
5,089 X dibaca hari ini
EMPAT LAWANG, Netralitasnews.com- Bantuan langsung tunai anggaran pendapatan dan belanja Negara (BLT APBN DD) adalah bantuan bantuan berupa uang kepada keluarga yang kurang mampu di desa. bantuan ini bertujuan untuk mengurangi dampak pandemi (COVID-19).
Kendati demikian, ada saja oknum yang di duga kuat dengan beraninya melakukan pemotongan sejumlah uang BLT-DD dari keluarga penerima manfaat (KPM). seperti contoh, 163 KK. yang merupakan keluarga penerima manfaat (KPM) BLT-DD tahap 1-III, Rp. 600.000,00 (enam ratus ribu rupiah)/KK dan tahap IV dan seterusnya berjumlah Rp. 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah)/KK.
Di duga kuat dipotong oleh penjaringan kepala desa desa suka dana Kecamatan Muara Pinang, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan.
Sungguh sangat di sayangkan hal ini telah terjadi. karena adanya pemotongan sejumlah Rp.50.000, (lima puluh ribu rupiah) /KK setiap pembagian dari tahap III-VI. menurut keluarga penerima manfaat sebagai korban pemotongan BLT-DD yang merupakan sumber yang dapat di percaya kebenarannya
didampingi oleh anggota BPD berikut perangkat desa, kepada Tim Media Online Indonesia Netralitasnews.com menyebutkan,
“Bantuan BLT-DD kami dipotong Rp. 50.000,00 (lima puluh ribu rupiah), ini dilakukan mereka saat realisasi tahap III. kami menerima sejumlah Rp. 550.000,00 (Lima ratus lima puluh ribu rupiah),” jelas Sumber dengan nada kesal
Sementara, pada tahap-IV kembali menerima Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah), tak berselang lama, hanya beberapa hari kami kembali menerima tahap-V dan VI berjumlah Rp. 500.000. (lima ratus ribu rupiah).” tandas salah seorang KPM.
Dengan demikian, jika dihitung jumlah dugaan pemotongan tersebut mulai dari tahap ke III-VI artinya sudah empat kali adanya dugaan pemotongan sebesar Rp. 50.000/KK X 4 = Rp. 200.000,00/KK X 163 KK = Rp. 32.600.000,00 (Tiga puluh dua juta enam ratus ribu rupiah).
Sementara itu, Pemerintah kecamatan Muara pinang, Sapar Dina Joly, saat di korfirmasi diruang kerjanya, “tidak mengetahui secara pasti adanya pemotongan BLT-DD Sukadana. karena, seluruh kepala desa maupun Pj. Kepala desa sudah saya himbau sebelumnya agar tidak melakukan pemotongan kepada masyarakat penerima manfaat khusus BLT.DD”, “jelasnya.
Sebelumnya, “sambung Camat, memang ada pesan Wa. bahwa desa Suka Dana realisasikan BLT-DS Tahap IV, V, dan VI. saat realisasi secara simbolis. saya tanya, ini judulnya apa, katanya realisai tahal IV, V, dan VI, ternyata yang dibagikan cuma tahap ke-IV saja
Pada hari ini sudah ada pemberitahuan pembagian tahap V dan VI. namun sayang Pj. Kepala desa ini tidak menjelaskan, sehingga terjadilah sedikit kericuhan. saya sarankan kepada kades jangan sampai ada permasalahan.
Masih menurut Sapar Dina Joly, kuncinya jangan ada pemotongan. bantuan Rp. 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) harus cukup. namun, jika diberikan Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) itu namanya pemotongan. untuk lebih jelas silahkan konfirmasi langsung dengan Pj. Kepala desa. ”Pintanya.
Tak berselang lama, Pj. Kepala desa Suka dana berhasil di konfirmasi mengenai informasi adanya dugaan pemotongan pada saat realisasi BLT-DD. dirinya membenarkan adanya pemotongan Rp.50.000,00 (lima puluh ribu rupiah)/KK. ini kesepakatan bersama. ”Akunya. Ketika ditanya, apakah ada surat perjanjian atau kesepakatan bersama antara KPM BLT-DD kepadanya. dirinya tidak bisa menunjukkan.
Sementara Terpisah, “Rm” ketua BPD Suka Dana bersama anggota menjelaskan, “Silahkan Pj. Kepala desa bagikan bantuan warga dengan mupakat, memang sempat ada kericuhan, memang ada pengakuan bahwa BLT-DD mereka dipotong sebesar Rp.50.000,00 (lima puluh ribu rupiah)/KK, yang sudah empat kali di lakukan. “Pungkasnya” (Red)
BANNER
PJ. Pemerintah Desa Muara Lintang Lama Kec. Pobar Mengucapkan Selamat Dirgahayu Kabupaten Empat Lawang ke-19, 20 April 2007 ~ 20 April 2026
1,942 X dibaca hari ini
EMPAT LAWANG, Netralitasnews.com – Pj. Kepala Desa Muara Lintang Lama, Kecamatan Pendopo Barat Kabupaten Empat Lawang Mengucapkan ; Selamat DIRGAHAYU KABUPATEN EMPAT LAWANG ke -19, 20 April 2007 – 20 April 2026.
” DENGAN SEMANGAT HARI JADI KE-19 KABUPATEN EMPAT LAWANG MARI KITA BERSINERGI MEWUJUDKAN EMPAT LAWANG MADANI JILID II MELALUI PEMERINTAHAN PROFESIONAL, EKONOMI MANDIRI, DAN PELAYANAN BERKUALITAS “
Tertanda : SAFRIN, S.Pd Pj. Kepala Desa Muara Lintang Lama, Kecamatan Pendopo Barat Kabupaten Empat Lawang.(@Red).
Empat Lawang
Di Balik Tangis Bayi, Dugaan Skenario Penemuan yang Mengusik Nurani Publik
1,590 X dibaca hari ini
EMPAT LAWANG, Netralitasnews.com – Sumatera Selatan — Tangisan bayi yang sempat menggugah rasa iba masyarakat kini berubah menjadi tanda tanya besar. Kasus penemuan bayi di semak-semak Jalan Tembusan 3B yang sebelumnya menyentuh sisi kemanusiaan, kini justru dibayangi dugaan manipulasi alur kejadian.
Sorotan tajam datang dari media sosial. Unggahan akun Facebook bernama Sutri Yanti memicu gelombang reaksi publik, setelah menyebut bahwa peristiwa tersebut diduga bukan sekadar penemuan biasa.
“Kasus viral penemuan bayi Tebing Tinggi Empat Lawang Sumsel. Ternyata maling teriak maling. Yang menemukan bayi di semak belukar adalah orang tua kandungnya sendiri,” tulisnya.
Pernyataan tersebut sontak menggiring opini publik ke arah yang lebih dalam—bahwa ada kemungkinan peristiwa yang semula dianggap sebagai tragedi kemanusiaan, justru merupakan sebuah skenario yang disusun untuk menutupi aib.
Lebih jauh, dalam unggahan itu disebutkan bahwa narasi penemuan bayi diduga sengaja dibentuk agar terlihat alami dan mengundang simpati.
“Berharap berdalih menutup aib. Dibuatlah skenario sebagus mungkin bahwa dia dapat anak. Dan akhirnya skenario palsunya terbongkar,” lanjutnya.
Jika dugaan ini benar, maka peristiwa ini bukan hanya soal penelantaran anak, tetapi juga bentuk manipulasi terhadap empati publik. Rasa iba masyarakat yang tulus bisa saja dimanfaatkan sebagai tameng untuk menutupi fakta yang sebenarnya.
Fenomena ini menjadi cermin buram kondisi sosial, di mana rasa malu dan tekanan sosial diduga lebih diutamakan daripada tanggung jawab terhadap nyawa seorang anak yang tak berdosa.
Lebih ironis lagi, jika benar skenario tersebut melibatkan orang tua kandung, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hukum, tetapi juga nilai kemanusiaan yang paling mendasar.
Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat kini dihadapkan pada dua kemungkinan: antara fakta yang sesungguhnya atau sekadar opini yang berkembang liar di media sosial.
Namun satu hal yang pasti, kasus ini telah membuka ruang diskusi yang lebih luas—tentang moralitas, tanggung jawab, dan bagaimana sebuah peristiwa bisa dikemas sedemikian rupa untuk memengaruhi persepsi publik.
Hingga saat ini, pihak berwenang belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Proses penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan kebenaran di balik peristiwa ini.
Masyarakat pun berharap, fakta yang sesungguhnya segera terungkap. Sebab di balik semua ini, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan—seorang bayi yang seharusnya mendapatkan kasih sayang, justru menjadi korban dari situasi yang belum sepenuhnya jelas.(@Rls).
Empat Lawang
Gabungan Wartawan Akan Laporkan Oknum Guru yang Diduga Hina Profesi Jurnalis
2,483 X dibaca hari ini
EMPAT LAWANG, Netralitasnews.com – Gabungan wartawan dari media online, cetak, dan televisi yang tergabung dalam Forum Komunikasi (Forkom) Diskominfo Kabupaten Empat Lawang berencana melaporkan seorang oknum guru SMP Negeri 5 Tebing Tinggi berinisial CA. Oknum tersebut diduga telah menghina profesi wartawan melalui komentar di media sosial Facebook.
Peristiwa ini bermula saat salah satu media online memuat pemberitaan terkait dugaan penimbunan gas elpiji di sebuah rumah mewah di Kecamatan Tebing Tinggi. Namun, alih-alih memberikan kritik yang konstruktif, CA justru melontarkan komentar yang dinilai merendahkan profesi jurnalis.
Dalam komentarnya, CA menyebut bahwa berita tersebut merupakan “pembodohan publik” serta menilai tulisan jurnalis tidak memenuhi unsur dasar jurnalistik 5W+1H.
Ia bahkan secara terbuka menyarankan agar wartawan “belajar lagi cara menulis”, yang dinilai banyak pihak sebagai bentuk arogansi yang tidak pada tempatnya.
“Berita ini tidak ada unsur 5W + 1H. Mestinya sebelum membuat berita, wartawan tersebut harus belajar dulu,” tulis CA pada Jumat (10/4).
Tak hanya itu, CA juga secara personal menyasar salah satu jurnalis televisi, Diah Anggraini dari TVRI. Dalam unggahannya, ia menuding produk jurnalistik yang dihasilkan cenderung menjatuhkan pihak tertentu.
“Ya betul, belajar menulis dengan tata bahasa yang benar. Termasuk Anda, Bu Diah, pencari berita yang sukanya menjatuhkan orang. Nanti saya kritik, tidak terima. Mengkritik orang semena-mena, giliran dikritik tidak terima. Tidak adil namanya,” tulisnya.
Diri nya secara Prontal menyuruh wartwan mencari ide yang lebih kreatif lagi dalam menguak suatu berita seperti menyuruh wartawan mencari berita ke akhirat.
” Bukan nya anda yang hobi nya nimbrung, setiap berita viral di tangkap, coba cari ide sendiri ,cari ke akhirat misal nya,” ungkap Seorang guru Bahasa Indonesia pendidik Generasi Bangsa di media sosial.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Empat Lawang, Rodi Hartono, menyayangkan sikap oknum guru yang dinilai terlalu frontal dalam menyampaikan pendapat di ruang publik.
Menurutnya, sebagai aparatur sipil negara (ASN) sekaligus tenaga pendidik, seharusnya yang bersangkutan dapat memberikan contoh yang baik dalam berkomunikasi, bukan justru menggeneralisasi dan menghakimi profesi wartawan.
“Tidak semua wartawan seperti itu. Masih banyak wartawan yang bekerja secara profesional, bahkan telah mengantongi sertifikasi dari Dewan Pers mulai dari jenjang muda hingga madya. Jika ada kesalahan oleh oknum, jangan digeneralisasi seolah mewakili seluruh profesi,” tegas Rodi.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, mengingat dampaknya yang luas terhadap persepsi publik.
“Bijaklah dalam memberikan komentar di media sosial. Apa yang disampaikan di ruang publik dapat memengaruhi pemahaman masyarakat secara luas,” tambahnya.
Hingga berita ini diterbitkan, organisasi wartawan yang tergabung dalam Forkom Diskominfo Empat Lawang berencana mendatangi Dinas Pendidikan Kabupaten Empat Lawang untuk menyampaikan sejumlah sikap resmi, antara lain:
• Setiap profesi, baik tenaga pendidik maupun insan pers, memiliki peran strategis dalam pembangunan, khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjaga keterbukaan informasi publik.
• Tenaga pendidik sebagai figur teladan diharapkan senantiasa menjaga etika komunikasi, baik di lingkungan sekolah maupun di ruang publik.
• Perbedaan pandangan atau miskomunikasi hendaknya disikapi secara bijak tanpa saling menyudutkan.
• Penting bagi semua pihak untuk mengedepankan etika, saling menghormati, serta melakukan klarifikasi apabila terjadi kesalahpahaman.
• Peristiwa ini diharapkan menjadi pembelajaran bersama untuk memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan insan pers.
• Pihak terkait didorong untuk memberikan penjelasan secara proporsional guna menghindari kesalahpahaman yang lebih luas.
Gabungan wartawan juga mengajak seluruh pihak untuk menahan diri, menjaga kondusivitas, serta terus membangun hubungan yang harmonis dan konstruktif ke depan. (**).
-
Bengkulu5 tahun agoLSM PKN Laporkan Perbuatan Melawan Hukum, Dugaan Korupsi DD Dusun Sawah Ke Kejari
-
Empat Lawang5 tahun agoPjs. Kepala Desa Aur Gading diduga Tabrak Permendagri no 67 Tahun 2017
-
Empat Lawang5 bulan agoUPTD Puskesmas Tebing Tinggi Selengggarakan Kegiatan Pemicuan dan Pendampingan Pilar 1 STBM
-
Empat Lawang5 tahun agoDi duga Dana Rehab SMP Negeri 1 Pobar Jadi Ajang Korupsi, APH di Minta Bertindak
-
Empat Lawang5 tahun agoInspektorat Akan Turun Lapangan, Uji Petik Dugaan Pemotongan BLT DD Suka Dana
-
Empat Lawang3 bulan agoBupati Joncik Pembina Upacara Peringatan HAB ke – 80 Kemenag RI
-
Empat Lawang8 bulan agoAtlet IPSI Empat Lawang Raih 5 Besar pada Pencak Silat Road TO PON Sum-Sel
-
Advertorial5 tahun agoDEWAN PENDIDIKAN Empat Lawang Kunjungi SMPN 1 Ulu Musi, ini Penyebabnya
